2021, ada sekitar 5 miliar orang yang beragama di seluruh dunia. Mereka adalah penganut agama-agama dunia, seperti Kristen dan Buddha, maupun agama-agama lokal, seperti Rastafari dan Neo-Paganisme. Sekitar 2 miliar orang memutuskan untuk tidak beragama. Sampai awal 2021, kelompok tak beragama ini mengalami perkembangan paling pesat.

Di dalam sejarah, agama lahir dengan dua tujuan. Yang pertama membawa manusia dekat pada penciptanya. Namanya beragam, mulai dari Tuhan, Dewa sampai dengan Yahwe. Ini amat tergantung pada budaya setempat, dimana agama itu lahir. Yang kedua adalah memberikan tatanan bagi hidup manusia di tengah segala ketidakpastian hidup, mulai dari bencana sampai dengan ketakutan menghadapi kematian.

Tujuan agama bisa diringkas dalam dua kata, yakni makna dan moral. Makna terkait dengan tujuan keberadaan manusia. Moral terkait dengan panduan tindakan, supaya manusia bisa hidup bersama secara damai. Bentuknya agama pun beragam, sejalan dengan perkembangan budaya di berbagai tempat. Namun, inti dasarnya serupa.

Korupsi Agama
Seperti segala hal di tangan manusia, agama pun mulai disalahgunakan (corrupted). Kepentingan politik menggunakannya untuk mengumpulkan masssa dan merebut kekuasaan. Kepentingan ekonomi menggunakan untuk memperoleh lebih banyak uang dari kebodohan orang banyak. Indonesia sudah kenyang dengan dua pengalaman ini.

Agama digunakan untuk membenarkan kemalasan berpikir. Orang pun jadi sempit berpikir dan intoleran. Mereka menjadi tertutup terhadap perbedaan pendapat. Mereka menjadi jahat dan buta akal sehat.

Di Indonesia, agama dihancurkan oleh sikap formalistik. Artinya, agama hanya menjadi tampilan luar semata, mulai dari cara berpakaian sampai dengan hafalan buta atas ajaran agama tertentu. Tidak ada perubahan batin. Tidak ada penghayatan mendalam yang menghadirkan kedamaian dan welas asih. Hanya tampilan luar semata. Titik.

Agama pun digunakan untuk konformisme sosial. Supaya naik pangkat, orang menganut agama tertentu. Supaya lancar di politik, orang menganut agama tertentu. Agama kehilangan makna dan moral sejatinya.

Karena formalisme agama yang dangkal, orang tidak lagi mampu berpikir mandiri. Nalarnya cacat. Logikanya terselip di balik iman buta. Ia tidak mampu membuat keputusan dengan nalar jernih dan sesuai dengan keadaan.

Hasilnya adalah radikalisme agama. Orang menjadi jahat terhadap agama lain, maupun tafsiran lain atas agamanya. Selangkah lagi, ia menjadi teroris. Ia siap membunuh dan menghancurkan orang lain, hanya karena berbeda agama, ataupun berbeda tafsiran agama.

Nalar Agamis Kritis
Disinilah pentingnya nalar kritis. Ia menimba ilmu dari kritik agama yang dilontarkan para filsuf dan ilmuwan sosial. Intinya sederhana: segala hal mesti diuji dengan bukti nyata dan akal sehat, sebelum ia dipercaya. Ini mencakup tradisi sampai dengan pandangan umum yang tersebar luas.

Bahwa sesuatu itu tertulis, belum tentu itu benar. Bahwa sesuatu itu datang dari masa lalu, dan tertulis, itu belum tentu benar. Disini pentingnya kemampuan menafsir secara kritis dengan data dan akal sehat. Ini amat penting dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia.

Bahwa sesuatu itu dikatakan seorang ahli, belum tentu itu benar. Bahwa sesuatu dikatakan oleh orang yang dihormati di masyarakat, belum tentu itu benar. Kebenaran adalah soal bukti nyata dan logika. Hanya dengan berpijak pada bukti nyata dan logika, kebenaran yang sejati bisa tampil ke depan, dan keputusan yang tepat bisa diciptakan.

Bahwa sesuatu itu dipercaya banyak orang, bukan berarti itu benar. Sebaliknya justru amat mungkin terjadi. Sesuatu yang diyakini banyak orang cenderung salah. Sejarah sudah membuktikan itu.

Selama ribuan tahun, manusia yakin, bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Pandangan ini dipatahkan. Dengan berbagai penelitian, dan pertarungan politik, kita pun sampai pada kebenaran, bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Ada berbagai contoh lainnya dengan pola serupa.

Kritik Agama
Agama bisa menjadi lembaga khayalan. Begitulah kata Feuerbach, seorang pemikir Jerman. Tuhan kerap menjadi proyeksi dari pikiran manusia. Segala hal baik diarahkan pada dia.

Akhirnya, manusia pun menyembah khayalannya sendiri. Ia menjadi cacat dan lemah, karena sibuk menyembah, dan lupa mengembangkan diri. Ilmu tentang Tuhan menurut Feuerbach, sejatinya adalah ilmu tentang manusia. Agama yang mengerdilkan jati diri dan kemampuan manusia adalah agama khayalan.

Agama juga bisa membuat kita seperti anak kecil. Kita selalu memohon bantuan Tuhan yang tak kelihatan. Akhirnya, kita malas berusaha sendiri. Kita juga malas bertanggungjawab atas perbuatan kita, karena semuanya dilempar ke tuhan.

Dalam arti ini, seperti diingatkan oleh Freud, seorang pemikir Austria, agama adalah sebentuk kelainan jiwa. Orang menyembah sesuatu yang tak kelihatan. Orang memohon pada sesuatu yang tak tampak. Jika tak hati-hati, agama bisa jatuh ke dalam hipnosis massal yang memperbodoh dan mempermiskin kehidupan.

Di dalam keadaan kemiskinan dan ketidakadilan, agama bisa menjadi candu sesaat yang menghibur. Begitulah kata Karl Marx, seorang pemikir Jerman. Agama menumpulkan akal budi dan daya juang. Orang pun menerima penindasan, ketidakadilan dan kemiskinan tanpa perlawanan.

Di abad ilmu pengetahuan dan teknologi ini, agama seharusnya tidak mendapatkan tempat. Begitu kata Richard Dawkins, seorang pemikir Inggris. Agama adalah artefak masa lalu yang menyebabkan kemiskinan, kebodohan dan perang. Ia tidak layak mendapatkan ruang hidup di abad 21 ini.

Memurnikan Hidup Beragama
Para pemikir kritik agama di atas tidak sepenuhnya salah. Agama bisa jatuh ke dalam paham sesat yang membenarkan ketidakadilan. Agama bisa membuat manusia menjadi sempit, bodoh dan miskin. Kita bisa belajar dari mereka semua, sambil terus memurnikan hidup beragama kita sendiri.

Di sisi lain, pemerintah juga mesti tegas terhadap segala bentuk radikalisme agama. Sikap tak adil atas nama agama harus dilawan secepat dan seefektif mungkin. Ia tak boleh dibiarkan berkeliaran, dan menganggu tata hidup bersama. Indonesia, dan dunia ini, adalah milik semua mahluk, apapun spesiesnya, agamanya, juga untuk yang tak beragama.

Inilah inti nalar kritis beragama. Jika ini dilakukan, maka kita akan mengalami pemurnian hidup beragama. Kita akan tetap beriman dan beragama, sekaligus terbuka pada perbedaan, mampu bernalar dengan akal sehat, bersikap kritis dan menemukan kedamaian di dalam hidup. Hanya dengan begini, perdamaian antar agama bisa sungguh terwujud.

Jangan ditunda lagi.

Oleh. Dr. phil. Reza A. A Wattimena, SA., M.Hum
Penulis adalah penulis buku "Untuk Semua yang Beragama: Agama dan Pelukan Filsafat, Politik dan Spiritualitas" (2020)

Post a comment

nabire.NEWS

{picture#https://1.bp.blogspot.com/-6pUnA5nMAJU/XtxVsT3qMfI/AAAAAAAAAdk/Or_LzfmtqdocFEJ_4BplnES8prVGr5j0gCLcBGAsYHQ/s1600/ghh.jpg} Nabire.NEWS adalah harian berita online berbasis Sains dan Humaniora. Ada empat hal yang menjadi fokus pemberitaan Nabire.NEWS, yaitu: (1) Kejadian menarik yang terjadi dalam kehidupan; (2) Artikel berupa Kajian Teori dan Gagasan Konseptual; (3) Fakta Peradaban Ilmu Pengetahuan; (4) Untuk menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, maka disajikan informasi dari wilayah Timur Nusantara, khususnya Kabupaten Nabire {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.