Kawasan Laut TNTC (Foto Oleh. NABIRE NEWS)

NABIRE.NEWS.COM - Masyarakat pesisir di sekitar kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) sangat percaya bahwa laut memiliki kekuatan gaib yang dapat menjadi sumber kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat yang tetap menjaga keselarasan dengan “penguasa” laut. 

Sebaliknya mereka pun percaya jika tidak menjaga keselarasan maka akan mendapat bencana seperti gelombang tinggi, cuaca buruk, orang yang mati tenggelam atau diserang ikan hiu, serta berkurangnya hasil tangkapan ikan bagi nelayan.

Masyarakat di kawasan TNTC meyakini bahwa terdapat kawasan pulau, pantai, dan laut yang disakralkan dan di jaga oleh "suanggi" (baca: setan laut). Setiap orang yang melewati kawasan itu harus memberi salam dan mempersembahkan saji-sajian. Tidak boleh berbuat jahat seperti membuang sampah, berkata kotor, menangkap penyu, dan dilarang melaut kalau melihat ikan paus.

Adanya tradisi dalam bentuk mitos dan simbol-simbol dari alam yang diwariskan dari nenek moyang tersebut telah membentuk kebiasaan atau pengalaman masyarakat tentang “hari baik” beraktivitas di laut dengan memprediksi kondisi alam, seperti: iklim, arus, gelombang, adanya migrasi burung-burung untuk menentukan lokasi kumpulan ikan, jenis ikan, penyu bertelur, dan kondisi biota laut lainnya. 

Menurut laporan WWF (2013), masyarakat di TNTC memiliki tempat-tempat penting yang dianggap "pamali" atau keramat serta disakralkan dan sangat berkaitan dengan sejarah perjalanan nenek moyang mereka.

Selain tabu, tempat-tempat tersebut juga memiliki beberapa peraturan adat yang konon apabila dilanggar akan mendatangkan masalah. Pelanggaran tersebut adalah seperti jika memotong kayu, buang air (kecil), dan jatuh di tempat itu, bahkan menceritakannya kepada orang lain.

Adapun 7 Tempat Keramat di Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) adalah sebagai berikut.

1. Teluk Saibini
Teluk ini merupakan tempat yang paling keramat, karena di tempat ini terdapat bekas-bekas peninggalan dari tuan tanah di pulau Rumberpon. Peninggalannya berupa batu penggayu dan batu Kasuari. Tanjung ini juga merupakan tempat bermainnya kedua anak perempuannya yakni Sarera dan Sewaroki. Dengan pergi ke tempat ini digunakan perahu dengan mesin tempel (Jonson), waktu yang ditempuh adalah + 3 (tiga) jam perjalanan.

2. Tanjung Mondis atau Inuri 
Dahulu tanjung ini merupakan tempat tinggal ular Inuri, akan tetapi ular itu telah pergi karena digigit oleh Kima. Ular tersebut ditipu oleh seorang wanita cantik. Karena begitu cantiknya, ular itu rela melakukan apa saja yang dikehendaki si wanita, sampai suatu saat wanita itu menyuruhnya mengambil kima. Akan tetapi ular tersebut tidak tahu bahwa kima yang dimaksud adalah kima raksasa. Saat ular itu “Inuri” hendak mengambilnya, ia digigit hingga sakit. Karena sakit lalu ular itu mengibas ekornya hingga membekas di dinding batu sampai sekarang ini. Jarak tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di tanjung ini adalah ± 4-5 jam, menggunakan perahu tempel (Jonson).

3. Tanjung Mabubi
Ini merupakan tempat sakral. Pengunjung dilarang mengotori dan
memotong pohon di areal sekitar tanjung tersebut. Jarak tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di tanjung ini adalah ± 5-6 jam, menggunakan perahu tempel (Jonson).


4. Mamuram
Dipercaya tempat ini merupakan tempat tinggal manusia purba, ditandai dengan tumbuhnya serumpun bambu. Jarak yang ditempuh hingga sampai ke tempat ini adalah ± 5-6 jam, lalu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih 1 (satu) kilometer perjalanan.

5. Tanjung Anasaini
Tanjung ini dianggap sebagai ekor dari ular “Inuri”, karena itu di tempat ini dilarang keras untuk membuang air kecil, dan melakukan aktivitas asusila. Jarak tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di tanjung ini adalah ±2-3 jam, menggunakan perahu tempel (jonson).

6. Bukit Mundusani
Bukit ini adalah tempat manusia purba tinggal, dengan wajahnya berbentuk salib, dan kebiasaannya suka menculik manusia dan membawanya ke rumahnya ‘Mundusani”. Jarak tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di garis pantai tempat ini adalah ± 30 menit, menggunakan perahu tempel (Jonson), kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki yang memakan waktu sekitar 2-3 jam.

7. Marsanbra 
Marsanbra berupa gua perlindungan alam. Jarak tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di garis pantai tempat ini adalah ± 30 menit, menggunakan perahu tempel (Jonson). Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki dan menaiki gunung. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 2-3 jam. Tempat ini berdekatan dengan bukit Marsanbran yang berjarak sekitar 30-60 menit perjalanan.

Sumber Rujukan: 
Ben Gurion Saroy dan Saiful Anwar. (2018). Meretas Ekowisata Berbasis Konservasi Tradisional Di Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Manokwari: Balai Besar TNTC

Post a comment

nabire.NEWS

{picture#https://1.bp.blogspot.com/-6pUnA5nMAJU/XtxVsT3qMfI/AAAAAAAAAdk/Or_LzfmtqdocFEJ_4BplnES8prVGr5j0gCLcBGAsYHQ/s1600/ghh.jpg} Nabire.NEWS adalah harian berita online berbasis Sains dan Humaniora. Ada empat hal yang menjadi fokus pemberitaan Nabire.NEWS, yaitu: (1) Kejadian menarik yang terjadi dalam kehidupan; (2) Artikel berupa Kajian Teori dan Gagasan Konseptual; (3) Fakta Peradaban Ilmu Pengetahuan; (4) Untuk menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, maka disajikan informasi dari wilayah Timur Nusantara, khususnya Kabupaten Nabire {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.