Ir. Ben Gurion Saroy, M.Si (Kepala Balai Besar TNTC)

NABIRE.NEWS - Dalam penjelasannya terkait faktor pendorong pengelolaan kawasan konservasi, khususnya pengembangan ekowisata di Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC), Ir. Ben Gurion Saroy, M.Si, mengatakan tentang pentingnya penataan regulasi di TNTC tersebut.

Hal ini ditandaskan Saroy kepada awak media ini melalui via seluler pada hari Minggu (2/07/2020). Ben Saroy berharap dengan penataan regulasi, maka ke depannya ekowisata di TNTC bisa bermanfaat bagi masyarakat Nabire, khususnya masyarakat pemegang hak ulayat.

Menurut Saroy, penataan Regulasi memang sangat dibutuhkan dalam rangka pengembangan ekowisata berbasis korservasi tradisional (kearifan lokal).

"Ya, kalo bicara soal regulasi, tentu ada dua hal disini, yaitu: Peraturan Daerah (PERDA) Pengelolaan Pariwisata, dan yang kedua adalah Peraturan Bupati (PERBUP) Tentang Jenis Kegiatan dan tarif ekowisata di TNTC, Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Nabire," demikian dikatakan Saroy. 

Terkait itu, Saroy menambahkan bahwa penyusunan regulasi (PERDA dan PERBUP) memang merupakan kewenangan PEMDA Kabupaten, namun substansinya harus di bahas bersama oleh seluruh stakeholders terkait. 

"Salah satu tujuan penyusunan regulasi tersebut adalah untuk memberi legalitas bagi aktivitas pengelolaan pawisata di TNTC, khususnya di Wilayah Kabupaten Nabire Provinsi Papua dan Kabupaten Teluk Wondama Provinsi Papua Barat, terkait operasional Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diarahkan menjadi Pemegang IPPA ekowisata berbasis konservasi tradisional di TNTC.," tutur Saroy

Menurutnya, aspek lain yang juga membutuhkan fasilitasi regulasi adalah kebijakan dan program untuk memperbaiki kualitas pengelolaan perikanan karang, berupa pemberian izin penangkapan yang legal dari aspek pengelolaan TNTC, termasuk penentuan posisi geografis daerah penangkapan, jangka waktu penangkapan (musim), dan lokasi tangkap, serta alat tangkap yang digunakan.

"Kebijakan ini akan memberikan dampak berupa pemulihan stok dan menjamin proses rekrutmen alami untuk berjalan baik," terangnya.

Sebagaimana hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Marsoali (2001) menunjukkan adanya perbedaan potensi lestari ikan lencam pada kondisi karang yang baik dan yang rusak, sebesar 27%. Itu sebabnya, Charles (2001) pernah menyatakan bahwa aktivitas pertumbuhan ikan akan mengalami penurunan jika kebanyakan ikan tertangkap berasal dari jenis yang sedang mengalami proses pertumbuhan. 

Karenanya, maka Saroy mengatakan bahwa penentuan ukuran ikan minimum yang boleh ditangkap harus diupayakan untuk menghindari terjadinya mortalitas ikan dalam proses pertumbuhan.

Disamping itu, menurut Saroy, alternatif lain yang dibutuhkan demi mencegah terjadinya overfishing adalah pembatasan aktivitas penangkapan. Upaya lainnya lagi adalah memasukkan perikanan karang dalam sistem pemanfaatan optimal dengan mempertimbangkan ekosistem terumbu karang dan perairan sekitarnya. 

Lanjut Saroy, bahwa penentuan hasil maksimum lestari sangat diperlukan untuk mencegah tangkap lebih. Upaya pengelolaan berdampak ganda baik terhadap persediaan ikan maupun perbaikan kondisi karang.

Diungkap pula oleh Saroy bahwa pada saat ini, nelayan luar sering tinggal sementara selama beberapa hari di sekitar lokasi penangkapan ikan ekonomis (Kepulauan Auri, Pulau Roswar, dan sekitar Pulau Purup). Mereka menangkap ikan hidup dan tidak jarang melakukan penangkapan dengan cara membius menggunakan racun (bahan aktif sianida).

"Pengembangan penangkapan ikan karang dapat diimbangi dengan perbaikan ekosistem sehingga fungsi ekosistem karang sebagai daerah pemijahan, pengasuhan, dan perlindungan dari berbagai jenis biota tetap terpelihara," ungkap Saroy.

Dikatakan Saroy bahwa seluruh lokasi pemijahan atau spawning agregation site (SPAG’s) di TNTC perlu dilindungi melalui Peraturan Bupati dan Peraturan Adat (Sawora), kemudian ditetapkan sebagai lokasi diving/snorkeling (zona pariwisata berbasis adat).

"Hal lain yang juga membutuhkan arahan Bupati adalah rekomendasi tindak lanjut Masterplan Pemberdayaan Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Rekomendasi itu perlu ditindaklanjuti dengan penetapan Jenis Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di setiap kampung di TNTC melalui Keputusan Bupati," demikian ungkap Saroy. 

Keputusan Bupati tersebut, lanjut Saroy, sangat diharapkan agar dapat menampung rekomendasi kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah tertuang dalam dokumen Masterplan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Ekowisata di TNTC.

"Menurut hemat saya, hal ini perlu dilakukan untuk memberikan arah bagi kegiatan pemberdayaan di setiap kampung sesuai potensi dan keunggulan wilayah yang dimiliki oleh setiap kampung di TNTC, sehingga penggunaan dana kampung akan lebih terarah, berdaya guna, dan berhasil guna," demikian penjelasan
 Ir. Ben Gurion Saroy, M.Si, selaku Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (Red)

Post a comment

nabire.NEWS

{picture#https://1.bp.blogspot.com/-6pUnA5nMAJU/XtxVsT3qMfI/AAAAAAAAAdk/Or_LzfmtqdocFEJ_4BplnES8prVGr5j0gCLcBGAsYHQ/s1600/ghh.jpg} Nabire.NEWS adalah harian berita online berbasis Sains dan Humaniora. Ada empat hal yang menjadi fokus pemberitaan Nabire.NEWS, yaitu: (1) Kejadian menarik yang terjadi dalam kehidupan; (2) Artikel berupa Kajian Teori dan Gagasan Konseptual; (3) Fakta Peradaban Ilmu Pengetahuan; (4) Untuk menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, maka disajikan informasi dari wilayah Timur Nusantara, khususnya Kabupaten Nabire {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.