Pada dasarnya belajar selalu diawali dengan ketidaktahuan seseorang akan sesuatu. Untuk menjadi tahu, tentu ia akan mencari tahu. Maka dalam mencari tahu, seseorang akan belajar untuk mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui. Sehingga, ketika seseorang belajar untuk mengetahui apa yang tidak diketahui itu, maka ia tidak bisa menghindari apa yang disebut "kesalahan".  

Ya, melalui kesalahan-kesalahan yang temui, kemudian muncullah kesadaran untuk menyalahkan kesalahan. Itu sebabnya, belajar bukan soal mencari kebenaran, tetapi bagaimana menemukan kesalahan. Jika sudah benar, untuk apa belajar? 

Berangkat dari fakta bahwa kebenaran merupakan sesuatu yang berdiri bukan sebagai sesuatu yang dapat dibenarkan atau menambahkan unsur lainnya, serta mengurangi nilai dari kebenaran itu sehingga menjadi sebuah pembenaran akan kebenaran, seperti lasimnya bahwa belajar dan pembelajaran adalah menemukan kebenaran atau mencapai suatu kebenaran. Tapi untuk pendapat ini, maka perlu dipertanyakan kembali, apakah dalam prosesnya pembelajaran terjadi akibat dari fakta yang didapatkan adalah sesuatu yang benar? Jika benar, apakah kebenaran dapat dibenarkan? Sehingga pembenaran harus dilakukan atas sebuah kebenaran? Tentunya, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah “tidak”.

Karena pada prinsipnya, dunia yang di diami oleh manusia adalah sebuah kesalahan yang juga akhirnya menyimpan berbagai macam banyaknya kesalahan-kesalahan akibat dari satu kesalahan yang dilakukan oleh pembawa kesalahan pertama yaitu Adam dan Hawa (kesalahan awal). 


Sehingga, hal yang sesungguhnya adalah ketika kesalahan terjadi, maka seseorang mulai mencari penyebab kesalahan, agar dapat menyalahkan kesalahan tersebut, lalu timbul reaksi untuk menyalahkannya. 

Dan ketika kesalahan mulai disalahkan, maka terjadilah suatu “proses” yang kemudian dinamakan “belajar” untuk menyalahkan sesuatu yang salah, serta membandingkannya dengan kesalahan-kesalahan yang lain, kemudian secara terus-menerus mencari kesalahan-kesalahan lainnya, dan kembali lagi untuk mempersalahkan kesalahan yang didapatkan tersebut, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. 

Hal inilah yang dinamakan sebuah pembelajaran. Karena pada dasarnya, pembelajaran adalah upaya yang dilakukan seseorang secara terus-menerus, untuk mencari dan menemukan kesalahan-kesalahan dalam daya usaha dan upayanya untuk mempersalahkan apa yang salah tersebut, sehingga tercapai proses perbaikan akan kesalahan, dan bukan pembenaran akan kebenaran. Inilah esensi dari sebuah pembelajaran.

Oleh. Abdy Busthan

Post a comment

nabire.NEWS

{picture#https://1.bp.blogspot.com/-6pUnA5nMAJU/XtxVsT3qMfI/AAAAAAAAAdk/Or_LzfmtqdocFEJ_4BplnES8prVGr5j0gCLcBGAsYHQ/s1600/ghh.jpg} Nabire.NEWS adalah harian berita online berbasis Sains dan Humaniora. Ada empat hal yang menjadi fokus pemberitaan Nabire.NEWS, yaitu: (1) Kejadian menarik yang terjadi dalam kehidupan; (2) Artikel berupa Kajian Teori dan Gagasan Konseptual; (3) Fakta Peradaban Ilmu Pengetahuan; (4) Untuk menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, maka disajikan informasi dari wilayah Timur Nusantara, khususnya Kabupaten Nabire {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.