Istilah “ilmu” yang ditempatkan dalam pendidikan adalah sesuatu yang memerlukan pemikiran teoritis. Tentu teoritis dapat diartikan sebagai pemikiran yang tersusun secara teratur dan sistematis. Dan unsur pokok yang tersusun dalam pemikiran yang bersifat teoritis itu antara lainnya adalah masalah tujuan pendidikan dan faktor kondisi siswa yang memungkinkan untuk mendapatkan didikan (Salam Burhanudin, 2011). 

Prinsip–prinsip tentang ilmu kemudian disandingkan dengan istilah “pengetahuan”, yang selalu menimbulkan perdebatan tentang mana yang lebih dahulu, antara manusia sebagai makhluk berpikir (memiliki akal budi) yang adalah subjek, ataukah kenyataan yang diamati atau dialami dalam alam semesta, yang adalah objek. 


Ibarat dua pilihan, pilih mana? Subjek atau objek?

Sejatinya dalam kemanusiaannya, manusia tidak hanya memiliki tubuh saja, tetapi juga memiliki jiwa. Artinya bahwa manusia tidak hanya tahu tentang sesuatu, tetapi juga ia tahu bahwa ia tahu tentang sesuatu itu. Sehingga manusia tahu bahwa ia tahu, serta ia pun sadar bahwa ia sadar. Dan oleh kesadaran yang dia tahu itu, maka manusia pun melakukan refleksi tentang apa yang diketahuinya tersebut. 


Sehingga dengan refleksi itu maka ‘pengetahuan’ yang mulanya bersifat langsung dan spontan, kemudian menjadi di atur secara sistematis, sehingga isinya dapat dipertanggungjawabkan—yaitu mendapat kritikan untuk di bela. Dan dari kenyataan inilah kemudian muncul apa yang disebut dengan “ilmu pengetahuan”.

Jadi dapat dipahami bahwa ilmu pengetahuan muncul dengan apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung, yang di susun dan di atur secara sistematis dan terstruktur, yaitu dengan menggunakan metode yang bersifat baku. 

Berdasarkan prinsip diatas, maka dapat ditegaskan bahwa, Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk didalamnya manusia dan kehidupannya. Sedangkan, Ilmu pengetahuan adalah keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang telah dibakukan secara sistematis.

Pengetahuan bersifat spontan, sedangkan ilmu pengetahuan lebih kepada konsep sistematis. Sebab pengetahuan mencakup batasan penalaran, serta penjelasan, kemudian pemahaman manusia tentang segala sesuatu, termasuk juga didalamnya praktek atau kemampuan teknis dalam hal memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum dibakukan secara sistematis dan metodis (Dua Mikhael & Keraf Sony, 2001). 

Ketika persoalan-persoalan yang muncul mulai di kaji secara sistematis dan metodis—menjadi dibakukan, maka muncullah apa yang di sebut dengan ‘teorisasi’. Sebagaimana pengertian dasarnya, bahwa teorisasi merupakan sumber primer yang menghasilkan teori, serta merupakan penjelasan dengan menjawab pertanyaan 'mengapa' dari peristiwa dan hasil-hasil sejarah lainnya.

Teori & Praktik Pendidikan 
Pendidikan dapat dibedakan menjadi dua wilayah kajian-nya, yaitu ‘teori’ dan ‘praktik’.—Teori pendidikan adalah pengetahuan tentang makna serta bagaimana seharusnya pendidikan diimplementasikan dalam tatanan praksis. Sedangkan praktik pendidikan merupakan pelaksanaan pendidikan secara konkrit.

Pemahaman Teori Pendidikan
Teori pendidikan disusun menjadi seperti latar belakang yang hakiki dan sebagai kajian yang lebih rasional dari penyelenggaraan praktek pendidikan itu sendiri. Sehingga menjadi lebih bersifat direktif, yakni memberikan makna, bahwa pendidikan itu mengarah pada tujuan yang pada hakikatnya juga untuk mencapai kesejahteraan seluruh pelaku dan perilaku yang terlibat di dalamnya—pendidikan.

Secara teoritis, terdapat tiga pendekatan penting yang terkait dengan upaya dalam mempelajari pendidikan sebagai teori, yaitu: (a) pendekatan sains; (b) pendekatan filosofi; dan (c) pendekatan religi. Berikut penjelasannya.

Pendekatan SainsPendekatan sains merupakan pengkajian dalam lingkup pendidikan, untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerjanya adalah dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, sehingga ilmu pendidikan dapat menjadi bagian-bagian yang lebih konkrit. 

Dari pendekatan sains ini, kemudian menghasilkan sains pendidikan atau ilmu dengan berbagai cabangnya, seperti:

Sosiologi pendidikan, yang adalah aplikasi cabang ilmu pendidikan dari kajian sosiologi dalam pendidikan, untuk membahas faktor-faktor sosial dalam pendidikan.

Psikologi pendidikan, merupakan cabang ilmu pendidikan dari psikologi, dalam membahas perilaku dan perkembangan individu dalam belajar (perkembangan peserta didik).

Administrasi/Manajemen pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya, agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Teknologi pendidikan dan Teknologi pembelajaran, adalah aplikasi dari cabang ilmu pendidikan dari sains dan teknologi, yang mengkaji tentang metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien, serta cara memecahkan persoalan-persoalan belajar dengan menggunakan pendekatan teknologi sebagai sistem pendidikan

Evaluasi pendidikan adalah cabang ilmu pendidikan, yang merupakan aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika, yang berfungsi untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.

Bimbingan dan Konseling, yaitu cabang ilmu pendidikan yang merupakan bagian dari aplikasi beberapa disiplin ilmu, seperti sosiologi dan teknologi, dan psikologi. Tentunya disamping itu juga masih banyak terdapat cabang-cabang ilmu pendidikan lainnya, yang biasaya dihasilkan melalui berbagai kajian ilmiah.

Pendekatan Filosofi 
Pendekatan folosofi, merupakan suatu pendekatan untuk dapat memecahkan masalah-masalah dalam pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Kajian pendidikan tidak hanya menyangkut bagaimana pendidikan itu terlaksana dalam domain praksis semata, yang tentunya hanya terbatas pada pengalaman. 

Karena itu, maka pendidikan membutuhkan filsafat untuk mendalami persoalan-persoalan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat di kelompokkan ke dalam tiga model:

Model filsafat spekulatif. Filsafat spekulatif merupakan cara berpikir sistematis tentang segala sesuatu yang ada. Serta untuk merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini. Hal ini didasari bahwa manusia memiliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman

Model filsafat preskriptif. Dalam hal ini filsafat preskriptif, dapat menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian dari perbuatan manusia, serta penilaian tentang seni, bagaimana menguji apa yang disebut dengan baik dan jahat, atau benar dan salah, serta bagus dan jelek. Karena pengkajian nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam diri, yang merupakan gambaran dari fikirannya. Untuk konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberikan sumbangsih tentang bagaimana perbuatan atau perilaku manusia yang bisa menjadi bermanfaat.

Model filsafat analitik. Sementara itu, filsafat analitik merupakan penekanan pemikiran lebih kepada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, serta juga menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir.

Pendekatan Religi
Pendekatan religi merupakan pendekatan yang tersusun berdasarkan teori-teori pendidikan yang lebih bersumber dan berlandaskan pada ajaran agama. Di dalamnya termuat keyakinan dan nilai-nilai tentang kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk menentukan tujuan, metode, bahkan juga segala jenis-jenis pendidikan.

Pada prinsipnya, pendekatan religi sedikit berbeda dengan pendekatan sains maupun filsafat, dimana sepenuhnya ditekankan pada akal atau rasio. Tetapi dalam pendekatan religi, penekanannya adalah iman—keyakinan (keimanan). Sehingga jelaslah bahwa pendekatan religi menuntun setiap individu untuk meyakini segala sesuatu yang diajarkan dalam agamanya masing-masing, kemudian mengerti dan mempelajarinya berdasarkan iman dan kepercayaan tersebut, dan bukan sebaliknya.


Oleh. Abdy Busthan

Post a comment

nabire.NEWS

{picture#https://1.bp.blogspot.com/-6pUnA5nMAJU/XtxVsT3qMfI/AAAAAAAAAdk/Or_LzfmtqdocFEJ_4BplnES8prVGr5j0gCLcBGAsYHQ/s1600/ghh.jpg} Nabire.NEWS adalah harian berita online berbasis Sains dan Humaniora. Ada empat hal yang menjadi fokus pemberitaan Nabire.NEWS, yaitu: (1) Kejadian menarik yang terjadi dalam kehidupan; (2) Artikel berupa Kajian Teori dan Gagasan Konseptual; (3) Fakta Peradaban Ilmu Pengetahuan; (4) Untuk menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, maka disajikan informasi dari wilayah Timur Nusantara, khususnya Kabupaten Nabire {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.