Secara sederhana, ideologi dapat dipahami sebagai suatu keyakinan. Sebagai keyakinan, ideologi pada dasarnya adalah rangkaian konsep yang terbentuk atas pendapat (kejadian) yang memberi arah dan tujuan untuk kelangsungan kehidupan. Pada titik ini, ideologi adalah suatu paham, teori, dan cara berpikir seseorang atau suatu golongan tertentu.

Manusia merupakan makhluk ideologi yang sangat jenius. Siapapun manusia, ia tak lepas dari ideologi! Menurut Althusser (1984), bahkan ketika manusia berbicara tentang ideologi dan mencoba membongkarnya pun, maka ia tetap menjadi makhluk ideologis. Sebab karakter dasar seorang manusia adalah binatang ideologi! Karenanya, ideologi itu ibarat udara tempat manusia menghirup nafas untuk melangsungkan hidupnya.

Tidaklah mudah untuk memahami ideologi, sebab kerapkali istilah “ideologi” berkonotasi dengan konsep ketidakberubahan—bahkan sampai pada taraf tertentu—mensugestikan sebuah kecenderungan ke arah ‘pengagamaan’ dan propaganda (
Busthan Abdy, 2016:87)

Tetapi kunci penting untuk memahami konsep ideologi, mungkin menarik jika merujuk pada beberapa poin penting yang dikemukakan Alastair C MacIntyre (1971) dalam Busthan Abdy (2016:87), yang mana beberapa kunci pemahaman ideologi adalah sebagai berikut:

Pertama. Ideologi akan berupaya untuk menggambarkan karakteristik-karakteristik umum tertentu alam, atau masyarakat, atau kedua-duanya. Dalam artian, karakteristik yang tidak hanya ada pada tampilan-tampilan tertentu dari dunia yang sedang berubah, yang hanya bisa diselidiki melalui pengkajian empiris.

Kedua. Adanya perhitungan tentang hubungan antara apa yang dilakukan dengan apa yang seharusnya dilakukan, keterkaitan antar hakikat dunia dengan hakikat moral, politik dan panduan-panduan perilaku lainnya. Artinya sebuah alat perumus dalam ideologi adalah bahwa ia tidak sekadar memberitahu kita tentang bagaimana dunia ini sebenarnya, dan bagaimana kita musti berperilaku, melainkan ia berkenan dengan arah yang diberikan oleh yang satu terhadap yang lain. Ia melibatkan sebuah kepedulian entah itu tersirat ataukah terang-terangan terhadap status pernyataan-pernyataan tentang aturan moral serta pernyataan-pernyataan yang mengungkapkan penilaian (evaluasi).

Ketiga. Ideologi tidaklah hanya dipercayai oleh anggota-anggota kelompok sosial tertentu, melainkan diyakini sedemikian rupa sehingga ia setidaknya merumuskan sebagian keberadaan (eksistensi) sosial dari mereka bagi mereka. Konsep-konsepnya tertanam di dalam, dan keyakinan-keyakinannya dijadikan syarat oleh sebagian dari tindakan serta transaksi tentang penampilan yang mencirikan kehidupan sosial kelimpok tersebut.

Ketiga poin di atas, setidaknya menegaskan bahwa ideologi merupakan sebuah keyakinan yang diterima sebagai fakta atau sesuatu yang dipercayai sebagai kebenaran oleh kelompok tertentu. Dan ideologi ini tersusun dari serangkaian sikap terhadap berbagai persoalan.

Pemahaman Ideologi Pendidikan
Istilah “ideologi pendidikan”, secara tradisional lebih banyaknya dikenal dengan istilah “filosofi pendidikan”. Menurut O’neil F. William (1981) dalam karyanya yang sangat fenomenal berjudul “Educational Ideologies”, ia menyatakan bahwa, ideologi-ideologi pendidikan memang terkait dengan sistem-sistem filosofis, namun dalam 4 (empat) hal, ia mugkin sedikit berbeda dari sistem filosofi biasanya, yaitu sebagai berikut:

  1. Ideologi-ideologi pendidikan lebih merupakan rangkaian sistem-sistem gagasan yang umum atau luas, ketimbang kebanyakan filosofi.
  2. Ideologi-ideologi pendidikan mengakar pada etika sosial (filosofi moral dan politik), dan hanya memiliki akar yang tidak besar di dalam sistem-sistem filosofi yang lebih abstrak, seperti realisme, idealisme, dan pragmatisme.
  3. Ideologi-ideologi pendidikan diniatkan terutama mengarahkan tindakan sosial dan bukan sekedar menjernihkan ataupun menata pengetahuan.
  4. Ideologi-ideologi pendidikan merupakan sebab, sekaligus akibat dari perubahan sosial yang mendasar.
Dari ke-empat poin di atas, dapat dipahami bahwa dari sekian banyak perbedaan ideologis yang nyata, maka selanjutnya ideologi pendidikan ini telah di batasi menjadi enam sudut pandang. 

Namun tak satupun ideologi pendidikan bersifat tunggal (monolitis). Enam pembagian ideologi-ideologi pendidikan pada dasarnya berasal dari pembagian dua kelompok besar ideologi, yaitu: (1) Ideologi konservatif; dan (2) Ideologi liberal. 

Menurut Busthan Abdy (2016:89-93), ideologi-ideologi pendidikan ini terdiri dari penerapan dan implikasi-implikasi dari berbagai posisi moral serta politis, yang menggarisbawahi perilaku persekolahan.

1. Ideologi Pendidikan Konservatif 
Ideologi konservatif dalam pendidikan, cenderung bersifat kaku, ortodoks dan konvensional, agak tertutup dan sedikit tidak membuka diri dengan hal-hal yang sifatnya baru. Itu sebabnya ideologi pendidikannya bersikap mempertahankan suatu keadaan lama, serta kebiasaan-kebiasaan lama dalam tradisi yang berlaku. 

Pada dasarnya, ideologi pendidikan konservatif didasarkan pada pandangan kebenaran agama, yang terentang dari berbagai macam ungkapan religius dan fundamentalisme pendidikan menuju sudut terjauh yang paling konservatif. 

Dalam bidang kajian belajar dan pembelajaran, ideologi konservatif ini lebih mendasari teori belajar behavioristik, yang menuntut kedisiplinan peserta didik dalam mematuhi aturan-aturan dan tata tertib belajar. Di damping itu juga sedikit mendasari teori belajar kognitifistik yang berpusat pada hukum-hukum kognisi dalam berpikir yang benar dan terarah.

Ideologi pendidikan konservatif ini dapat digolongkan ke dalam 3 (tiga) jenis, yaitu: (1) Fundamentalisme Pendidikan; (2) Intelektualisme Pendidikan; (3) Konservatisme Pendidikan.

a. Fundamentalisme Pendidikan.
Aliran ini lebih memandang bahwa kehidupan yang baik dan benar adalah melalui fundamen pendidikan religius yang terwujud dalam ketaatan terhadap tolok ukur keyakinan serta perilaku agamais yang bersifat intuitif atau yang diwahyukan. Ideologi jenis fundamentalisme pendidikan ini, dapat dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu: 
  • Fundamentalisme pendidikan religius, paham pendidikan yang muncul pada pandangan gereja-gereja tertentu yang sangata fundamentalis (bersifat kolot dan radikal). Itu sebabnya, golongan ini menolak proses intelektual yang selalu bertolak belakang dengan kebenaran yang sudah diwahyukan
  • Fundamentalime pendidikan sekular, paham pendidikan yang menerima cara pandang dunia melalui ‘akal sehat’ yang disepakati menjadi pandangan umum. Pandangan jenis ini lebih menghendaki persoalan kesusilaan atau budi pekerti, tidak didasarkan pada ajaran agama saja, tetapi kepada nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sosial.
b. Intelektualisme Pendidikan.
Ideologi pendidikan ini muncul dengan pemikiran intelektual yang baik, untuk menolak ungkapan-ungkapan politik yang didasarkan pada sistem-sistem pemikiran filosofis atau religius yang otoritarian (sewenang-wenang/berkuasa sendiri).

Berdasarkan sifatnya, intelektualisme pendidikan dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu:

  • Intelektualisme pendidikan bersifat sekuler, yaitu golongan yang berpegang pada kesusilaan dan budi pekerti untuk menolak ajaran-ajaran agama yang pasif dan fundamental. Beberapa pemikirnya adalah Robert Maynard, Hutchins dan Mortimer Adler.
  • Intelektualisme pendidikan bersifat telogis, yaitu golongan yang berpegang pada ajaran ‘kasih’ demi menolak ajaran-ajaran agama yang cenderung ortodoks dan fundamental (ajaran tentang taurat). Beberapa pemikirnya adalah filosof pendidikan Katolik Roma kontemporer, seperti William McGucken dan John Donahue.
c. Konservatisme Pendidikan.
Ideologi pendidikan ini berkembang dengan memposisikan diri pada pandangan yang mendukung ketaatan terhadap lembaga-lembaga dan proses-proses budaya yang mapan dan sudah teruji oleh waktu. Mereka cenderung menghargai hukum dan tatanan, sebagai landasan perubahan sosial (kehidupan bersama) yang konstruktif. Beberapa tokoh penting dari aliran ini adalah seperti Edmund Burke dan James Madison. 

Dalam dunia pendidikan, seorang konservatif beranggapan bahwa, sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan pola-pola serta tradisi-tradisi yang sudah mapan. Terdapat 2 (dua) ungkapan dasar konservatif dalam pendidikan, yaitu:

  • Konservatisme pendidikan religius, yang menekankan peran sentral pelatihan rohaniah sebagai landasan pembangunan karakter moral yang tepat.
  • Konservatisme pendidikan sekular, yang merupakan aliran yang memusatkan perhatiannya pada perlunya melestarikan dan meneruskan keyakinan-keyakinan serta praktik-praktik yang sudah ada, sebagai cara untuk menjamin pertahanan hidup secara sosial, serta efektivitas secara kuat oleh orientasi pendidikan yang bersifat lebih Alkitabiah dan Evangelis (mendakwahkan agama), yang juga secara teologis hal ini jelas kurang liberal (bebas) jika dibandingkan dengan aliran utamanya yaitu Kristen Protestan. Konservatisme pendidikan sekular ini diwakili oleh para kritisi yang tajam dari kalangan pendukung progresifisme pendidikan (kemajuan) dan permisifisme pendidikan (terbuka), seperti misalnya James Koerner dan Hyman Rickover.

2. Ideologi Liberal 
Ideologi liberal dalam pendidikan, cenderung berpikir luas, bebas, terbuka dan kontekstual dengan perubahan. Itu sebabnya ideologi pendidikannya bersikap mempertahankan suatu keadaan yang baru, serta kebiasaan-kebiasaan yang akan datang, demi usaha untuk perjuangan menuju kebebasan hakiki. Sebab pendidikan adalah suatu pembebesan dari keterpasungan sistem politik dan pemerintahan yang ada, juga sistem agama yang cenderung naif (tidak masuk akal).

Pada dasarnya, ideologi pendidikan liberal didasarkan pada pandangan metodis, yang terentang dari ungkapan yang paling kurang liberal (liberalisme pendidikan) hingga posisi yang paling radikal (anarkisme utopis) yang sangat menuntut perubahan. Radikal dalam hal ini adalah tuntutan keras kepada perubahan. Sehingga melalui perubahan demi perubahan akan dapat membawa pendidikan ke arah yang lebih baik. 

Dalam kajian belajar dan pembelajaran, ideologi liberal ini lebih banyaknya mendasari teori-teori belajar konstruktivistik dan humanistik, yaitu yang berpusat pada peserta dididik sebagai agen suatu perubahan ke arah yang lebih baik. 

Ideologi pendidikan liberal ini, dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) pandangan utamanya, yaitu: (1) Liberalisme Pendidikan; (2) Liberasionisme Pendidikan; (3) Anarkisme Pendidikan.

a. Liberalisme Pendidikan
Para pendidik ideologi liberalisme pendidikan, memusatkan perhatian pada “tujuan jangka panjang” pendidikan yang dapat melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada, dengan cara mengajar setiap siswa untuk menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya secara mandiri (sendiri) dan efektif. 

Ideologi liberalisme pendidikan ini, berbeda-beda dalam hal intensitasnya, yaitu dari yang paling lunak ke yang paling keras. Golongannya terdiri dari 3 kelompok, yaitu: (1) Liberalisme Metodis, yang diajukan oleh teoritisi Maria Montessori; (2) Liberalisme Direktif, yaitu liberalisme yang bersifat mengarahkan, yang paling sarat dengan muatan filosofi Jhon Dewey; dan (3) Liberalisme Non-Direktif, yaitu liberalisme tanpa pengarahan, yang lebih banyaknya berdasarkan pada sudut pandang seorang A.S Neil dan Carl Rogers.

b. Liberasionisme Pendidikan
Liberasionisme adalah merupakan sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa manusia (kita) musti segera melakukan perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik yang ada sekarang sebagai cara untuk menunjukkan “kebebasan-kebebasan” individu dan mempromosikan “potensi-potensi” diri semaksimal mungkin. Itu sebabnya, liberasionisme pendidikan lebih mencakup spektrum pandangan yang lebih luas.

Terdapat dua jenis liberasionisme pendidikan ini, yaitu: (1) Liberasionisme pembaharuan, yang pada awalnya seidikit bersifat konservatif, namun kemudian diajukan sekitar tahun 1960-an dalam berbagai protes untuk menuntut hak-hak warga negara kepada komitmen yang kuat dan mensedak terhadap kebebasan dan perubahan; (2) Liberasionisme revolusioner, yaitu implikasi mendesak dari liberasionisme pembaharuan, dengan seruannya agar sistem pendidikan segera mengambil peran aktif dalam menggulingkan tatanan politik. Liberalisme ini lebih didasarkan pada pandangan Marxis yang memperjuangkan kelas sosial.

Liberasionisme pendidikan, berpandangan bahwa sekolah secara moral, berkewajiban untuk mengenali dan mempromosikan program-program sosial konstruktif dan bukan hanya melatih pikiran siswa semata. Sekolah harus memajukan pola tindakan yang paling meyakinkan dengan dukungan sebuah analisis obyektif berdasarkan fakta-fakta yang ada.

c. Anarkisme Pendidikan
Pendidik ideologi liberal pendidikan dan liberasionisme pendidikan, mungkin lebih memusatkan perhatian pada sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka, yaitu pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah atau menerima prakiraan-prakiraan yang bisa dianggap selaras dengan sistem pendidikan semacam itu (O’neil F William, 1981), namun berbeda halnya dengan pendidik anarkisme pendidikan yang beranggapan bahwa, manusia (kita) harus menekankan perlunya meminimalkan atau menghapuskan pembatasan-pembatasan kelembagaan terhadap perilaku personal, bahwa kita musti—sejauh mungkin yang bisa dilakukan—adalah mendeinstitusionalisasikan masyarakat yaitu “membuat masyarakat bebas lembaga”.

Dasar utama pandangan anarkisme pendidikan ini bahwa, pendekatan terbaik terhadap pendidikan adalah pendekatan yang mengupayakan untuk mempercepat perombakan “humanistik” berskala besar yang mendesak dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan sistem persekolahan. Dan posisi ini paling terwakili dalam tulisan-tulisan Ivan Illich dan Paul Goodman.

Dalam perkembangan selanjutnya, anarkisme pendidikan ini kemudian terbagi menjadi dua jenis aliran, yaitu:

  • Anarkisme Taktis, yang muncul dengan misi untuk dapat melebur sekolah-sekolah yang cenderung kapitalis dan menindas kaum lemah, sehingga dapat membebaskan kekayaan dan sumber daya masyarakat untuk keperluan-keperluan sosial yang mendesak.
  • Anarkisme Utopis, yang muncul dengan membawa suatu misi yang memimpikan terciptanya masyarakat baru yang secara permanen terbebaskan dari segala pembatasan kelembagaan yang didukung pemerintah dan agama.

Tulisan ini di kutip dari buku
"PENGANTAR PENDIDIKAN: Konsep & Dasar Pelaksanaan Pendidikan"
Penulis: Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd
Tahun Terbit: 2016
Penerbit: Desna Live Ministry
Alamat Penerbit: Kupang
Nomor ISBN: 978-602-74991-3-3

Post a comment

nabire.NEWS

{picture#https://1.bp.blogspot.com/-6pUnA5nMAJU/XtxVsT3qMfI/AAAAAAAAAdk/Or_LzfmtqdocFEJ_4BplnES8prVGr5j0gCLcBGAsYHQ/s1600/ghh.jpg} Nabire.NEWS adalah harian berita online berbasis Sains dan Humaniora. Ada empat hal yang menjadi fokus pemberitaan Nabire.NEWS, yaitu: (1) Kejadian menarik yang terjadi dalam kehidupan; (2) Artikel berupa Kajian Teori dan Gagasan Konseptual; (3) Fakta Peradaban Ilmu Pengetahuan; (4) Untuk menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, maka disajikan informasi dari wilayah Timur Nusantara, khususnya Kabupaten Nabire {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.