Marten Luther King, JR. adalah seorang pendeta di Gereja Baptis Montgomery, Alabama. Dia merupakan salah seorang pemimpin terpenting dalam sejarah perjuangan Amerika Serikat. 

Bahkan dalam kancah dunia internasional, King populer sebagai figur pemimpin pencinta kedamaian, khususnya dalam perkembangan sejarah ‘non-kekerasan’ pada zaman modern. Sehingga oleh banyak kalangan di seluruh dunia, King dikenang sebagai seorang pahlawan pencipta perdamaian—martir.

Kemasyuran King tidak hanya sampai disitu, diberitahukan lebih lanjut bahwa satu setengah dekade setelah pembunuhan terhadap King pada tahun 1968, negara Amerika Serikat menetapkan sebuah hari libur khusus untuk memperingatinya sebagai hari raya Martin Luther King. 


King yang terkenal dengan perjuangannya dalam melawan diskriminasi rasial ini, di lahirkan di kota Atlanta, Georgia, dari ayah yang juga seorang Pendeta Baptis, bernama Martin Luther King, Sr. dan ibu  bernama Alberta Williams King. 

King menikah dengan Coretta Scott pada tanggal 18 Juni 1953. Lulus dari sekolah Morehouse College dengan gelar Bachelor of Arts (dalam bidang Sosiologi) pada 1948, dan dari Seminari Teologi Crozer di Chester, Pennsylvania, dengan gelar Bachelor of Divinity (Sarjana Teologi) pada 1951. 

Kemudian King melanjutkan pendidikannya pada tahun 1955 ke jenjang doktor dengan meraih gelar Ph.D dalam bidang teologi sistematika dari Universitas Boston.

Pada awalnya, King hanyalah merupakan anak seorang kulit hitam yang tidak diperhitungkan pada masanya. Masa kecilnya sungguh tragis, setragis nasib bangsanya. 
Di Amerika pada zamannya, warga kulit hitam selalu dipandang sebelah mata, yaitu sebagai makhluk yang tidak pantas mendapatkan perlakuan layaknya manusia. Mereka tidak hanya diperlakukan sebagai warga kelas dua—bawah, tetapi lebih dari itu, bahwa para Negro mengalami penindasan layaknya binatang. Hak-hak mereka sebagai warga negara di cabut oleh orang-orang kulit putih yang merasa bahwa ras mereka lebih unggul. 

Sehingga hal ini dirasakan King dalam kehidupan masa kecilnya sebagai seorang kulit hitam yang mengalami diskriminasi sebagai insan manusia yang segambar dengan Allah. 

Selain merasakan perlakuan yang tidak adil, ia juga menyaksikan dengan matanya sendiri, suatu realita penghinaan dan penindasan yang dirasakan oleh bangsanya. Dengan berbekal pendidikan yang baik, maka dia pun mendalami ajaran Kristus dalam Injil dan mendapatkan sebuah inspirasi untuk mengubah nasib bangsanya melalui jawaban dari perenungannya yang panjang terhadap persoalan yang sedang dihadapi bangsanya. 

Maka ‘pembebasan tanpa kekerasan’ menjadi pilihan King untuk bangkit melawan ketertindasan dan penindasan yang di lakukan terhadap bangsanya orang kulit hitam—negro. 

Berdasarkan prinsip tanpa kekerasan ini, King memimpin kaum Negro melakukan perlawanan yang tentunya dilakukan tanpa kekerasan pula. Langkah King awalnya mendapat penolakan dari kaumnya sendiri, sebab tidak bisa melawan kekerasan dengan kekerasan. Namun ia tak pernah merasa putus asah akan hal itu. Sebab ia sangat yakin bahwa ajaran Kristus adalah benar dan nyata adanya. Bahwa hanya dengan implementasi ‘kasih’ yang inklusif, maka ia mampu untuk membebaskan kaum negro dari penindasan orang kulit putih. 

Pada tahun 1963, King memimpin demonstrasi pemboikotan bus di Birmingham. Pemboikotan itu dilakukannya tanpa menggunakan kekerasan. Ia mengikuti prinsip-prinsip Mahatma Gandhi yang melakukan perlawanan dengan menghindari kekerasan. Fakta sejarah jelas sekali terlihat bahwa rasisme adalah isu dalam kehidupan sosial yang di alami oleh hampir semua keturunan Afrika yang hidup di Amerika. Dan hanya karena sebuah perbedaan ‘warna kulit’ saja, maka bangsa pun bangkit melawan bangsa, seperti yang di alami orang-orang kulit hitam Afrika yang mengalami berbagai bentuk ketidakadilan sosial pada masa itu.

Dalam perkembangan selanjutnya, diketahui pula bahwa ketika ketidakadilan itu terjadi, muncul pula gereja-gereja kulit hitam di Amerika sebagai bentuk penolakan kaum Afrika terhadap rasisme yang di anggap sebagai salah satu dosa utama—dimana rasisme dianggap sebagai perwujudan bentuk pelecehan ras secara langsung seperti dalam perbudakan dan pemisahan (segregation) hak-hak sipil kaum kulit hitam dari kaum kulit putih—selalu memandang kulit hitam sebagai golongan ras manusia paling rendah.

Akhirnya, perlawanan terhadap segala macam bentuk rasisme dari sudut pandang iman Kristen pun mulai dikobarkan. Sebagai orang kulit hitam, King tentunya sangat mengenal sekali dengan tradisi rasisme dalam praktik-praktik hukum, ekonomi dan politik di Amerika (Budiman 2013:170).

Salah satu hal yang paling terkenal dari kepribadian seorang King adalah visi moralnya yang sangat jelas dan praktis. Secara khusus, King dalam visi moralnya memandang rasisme sebagai sesuatu yang harus di hilangkan. Karena rasisme merupakan ‘dosa sosial’, baik itu dalam bentuk dosa sikap, tindakan bahkan sistem sosial dalam masyarakat. Tentu saja hal ini sangat mendasar mengingat visi moral yang di gagas King selalu bersumber dari imannya yang tumbuh dalam tradisi gereja Baptis orang-orang kulit hitam di Amerika. 

Maka dalam hal ini King membuang jauh ide tentang hal-hal yang berbau kekerasan, dan lebih memilih strategi tanpa kekerasan dalam ide-ide sosialnya. Terutama yang dicontohkan oleh Yesus Kristus dan seorang Mahatma Gandhi yang menyingkapkan demonstrasi kasih Kristus itu untuk dilakukan di Amerika, terkait dengan persoalan rasisme tersebut. 

Sehingga penggunaan jalan ‘damai’ merupakan prinsip sosial King untuk mencapai tujuan-tujuan sosial yang mulia pula. Dalam hal khotbah dan ceramahnya, King mencoba melancarkan protes-protesnya berdasarkan prinsip–prinsip Alkitab yang mengajarkan kasih, keadilan dan pengharapan. Sehingga keberhasilan perjuangan King dalam membela hak asasi orang-orang kulit hitam mulai mendapatkan hasilnya pada tahun 1956, dan kemudian mencapai puncaknya pada tahun 1963 dalam mars di kota Washington, yang ditandai pula dengan pidato King yang sangat terkenal hingga saat ini, yaitu ‘ I Have a Dream’. Dimana salah satu penekanannya dalam pidato tersebut, King mengatakan bahwa..”seratus tahun yang lalu, seorang pemimpin besar Amerika, yang menjadi simbol bagi kehidupan kita, menandatangani Proklamasi Emansipasi”. 

Pemimpin besar yang dimaksudkan adalah Abraham Lincoln, yang dengan menandatangani dokumen tersebut, maka orang-orang Afrika di Amerika mendapat kebebasan dari segala macam penindasan dan diskriminasi.

Demikianlah seorang King yang menjadi terkenal hingga saat ini sebagai tokoh gerakan pembebasan orang-orang kulit hitam dalam melawan rasisme yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih di masa hidupnya. 

Bahkan yang lebih menarik lagi, bahwa perlawanannya selalu diwujudkan dalam berbagai demonstrasi ‘damai’ dengan turun ke jalan-jalan di berbagai kota di Amerika, yang diantaranya adalah kota Montgomery (1955-1956), Albany (1961), Birmingham (1963), Selma (1965), Chicago (1966), Washington (1967) dan Memphis (1968).

Oleh: Abdy Busthan

Rujukan: 
Busthan Abdy. (2014). Pendidikan Kristen yang Membebaskan: Partisipatif PAK Sebagai Wawasan Belajar dan Pembelajaran dalam Kristus. Kupang: Inara

Post a comment

nabire.NEWS

{picture#https://1.bp.blogspot.com/-6pUnA5nMAJU/XtxVsT3qMfI/AAAAAAAAAdk/Or_LzfmtqdocFEJ_4BplnES8prVGr5j0gCLcBGAsYHQ/s1600/ghh.jpg} Nabire.NEWS adalah harian berita online berbasis Sains dan Humaniora. Ada empat hal yang menjadi fokus pemberitaan Nabire.NEWS, yaitu: (1) Kejadian menarik yang terjadi dalam kehidupan; (2) Artikel berupa Kajian Teori dan Gagasan Konseptual; (3) Fakta Peradaban Ilmu Pengetahuan; (4) Untuk menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, maka disajikan informasi dari wilayah Timur Nusantara, khususnya Kabupaten Nabire {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.