Yesus Kristus, datang tanpa persiapan yang penuh kemewahan, tanpa aksesoris yang mahal, dan tanpa kosmetik yang indah, serta tiada sambutan meriah yang penuh dengan decak kagum. Bahkan lebih dari itu, awalnya tak seorangpun manusia yang tahu tentang kelahiran-Nya. Ibarat sebuah kelahiran anak manusia yang selalu terlupakan. Semua seakan diam, semua menjadi sunyi dalam kesenyapan, bahkan semuanya seakan membisu seribu bahasa. Tetapi hanya dua yang berjaga terus. 

Kitab Injil Lukas menulis: ..“Ketika mereka tiba disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan dia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan di baringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat baginya di dalam penginapan” (Lukas 2:6-7)

Sebuah fakta yang berbanding terbalik, dan begitu kotras dengan kebesaran Anak Allah, serta kemuliaan-Nya yang kelak nantinya akan datang sebagai Raja atas segala raja, dan Tuhan di atas segala Tuhan. Kenyataannya, Yesus datang bukan sebagai manusia super, bukan pula sebagai manusia hero, juga bukan sebagai manusia yang paling kuat dan perkasa diantara semua yang terkuat dan perkasa, bahkan diantara seluruh kekuatan yang ada dalam kenafanaan di bumi. Tetapi Yesus datang sebagai yang terlemah di antara yang lemah, sebagai yang tersakiti diantara yang sakit, sebagai yang hina diantara mereka yang menjadi hina, bahkan sebagai yang selalu tertindas diantara mereka yang mengalami penindasan, serta diantara yang tersisih dan yang terlupakan oleh dunia yang penuh dengan dosa dan penindasan.

Sebagaimana konteks ‘tempat’ kelahiran Kristus, yang diperkirakan terjadi dalam dua versi pada saat itu. Sebagian orang menganggap kelahiran itu terjadi di salah satu bangunan luar dari rumah penginapan yang di pakai untuk binatang ternak. Namun ada pula yang berpendapat bahwa kelahiran itu terjadi di dalam gua dekat tempat itu, yang juga di pergunakan sebagai kandang binatang (Walvoord John 1969:90).

Terlepas dari semua asumsi itu, Alkitab dalam Lukas pasal 2, ayat 6 hingga 7, seperti tertulis di awal, mewakili fakta yang secara jelas menegaskan bahwa bayi Yesus ‘di-baringkan’ dalam palungan tempat makanan ternak yang kotor, dan yang tak pernah disiapkan bahkan dibersihkan terlebih dahulu oleh siapapun, termasuk oleh tangan Maria ibu kandung Yesus sendiri. 

Ya, sebuah kisah kelahiran anak manusia yang sungguh menghayat kalbu. Bahkan kisah ini menjadi kisah kelahiran seorang bayi yang sungguh memilukan, dan yang pernah ada dan tercatat dalam sepanjang sejarah peradaban manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Namun terlepas dari itu semua, seketika itu juga, suasana menjadi berubah. Ketika untuk pertama kalinya Malaikat Tuhan memberitakan tentang berita kelahiran Kristus ini sebagai wujud ‘pembebasan’. 

Mulanya, berita sukacita ini diberitakan secara langsung, umum, bebas dan tanpa rahasia kepada kaum marjinal yang sama sekali tidak di perhitungkan oleh masyarakat pada saat itu. Kabar yang sangat istimewa ini lebih diberitakan dengan apa adanya, sebagaimana adanya, bahkan dalam nuansa ‘derajad kesederhanaan’ kaum dekil yang hidup dalam kesusahan, yaitu sekelompok kawanan gembala domba di kota Bethlehem (Lukas 2:4).

Demikianlah akhirnya, sebuah pesan ‘damai’ dalam pewartaan akan pembebasan pertama di bumi ini, yang mulai dikumandangkan dengan penuh sukacita oleh bala Surga kepada kaum gembala yang sedang menjaga kawanan dombanya di bawah hamparan langit malam nan sunyi, ditemani indahnya cakrawala yang membentang, bersama semilirnya hembusan angin, yang semakin membawa suasana ‘teduh nan damai’ pada malam itu.

Pesan Damai Ilahi untuk Pembebasan
Dengan mewakili kewibawaan dan kemuliaan Allah di tempat yang Maha tinggi, Malaikat pembawa pesan damai pun berucap dengan lantang dan pasti, bahwa... “Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:11). 

Untuk mengungkapkan misteri tentang Yesus sang Pembebas, maka dalam ayat tersebut, penulis kitab Lukas terlebih dulu memunculkan tiga istilah sekaligus ke permukaan, dimana ketiga istilah ini sama-sama digunakan oleh orang Yahudi maupun orang Yunani.

Seperti yang terdapat dalam Septuaginta, kata “soter” adalah “Juru Selamat” yang menjelaskan bahwa akan terjadi ‘aktivitas’ Allah disitu. Yesus adalah ‘Mesias’ yang di urapi Allah. Sebab itu, maka Juru selamat sejati adalah ‘mesias’ yang berasal dari agama Yahudi. Mesias yang disebutkan ini kemudian memenuhi janji Allah, dengan membebaskan umat-Nya dari penindasan dan laknat dosa.

Sehingga istilah ‘Mesias’ dalam tata bahasa Yahudi berdiri di antara dua sebutan Yunani yaitu “Juru selamat” dan “Tuhan”. Sedangkan kata “Kyros” yang adalah “Tuhan”, juga merupakan istilah dari orang Yunani yang sering digunakan bagi Kaisar. Sebagaimana dalam Septuaginta, Allah adalah Tuhan yang sebenarnya. 

Sedangkan Yesus dapat mencakup ke duanya—berasal dari Allah, tetapi sekaligus putra Allah—tetapi di saat yang sama, Yesus adalah Tuhan yang membawa pembebasan, kedamaian dan keselamatan bagi seluruh dunia secara permanen, yang jika dibandingkan dengan kaisar manapun, Yesus lebih tinggi dalam kemuliaan-Nya. (Grun Anselm, 2004:25)

Dalam kesahajaaan dan kesederhanaan-Nya, Sang Pembebas akhirnya turun ke bumi—dengan menghadirkan ‘damai Ilahi’, untuk mereka yang terluka, terdindas, tersisih, bahkan yang terlupakan, tetapi juga bagi mereka yang membutuhkan keselamatan kekal yang tak berujung. Seperti di lukiskan dalam kitab Efesus 2:17-18: “Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa ”.

Bahkan secara lebih artistik lagi, penulis kitab Lukas yang juga di juluki sebagai ‘Teolog pembebasan’ dan ‘Penginjil kaum miskin’ ini, kemudian merangkai kisah ‘pembebasan’ itu ke dalam tiga bagian kejadian yang sekaligus dijadikan satu kisah berbentuk ‘Teologi Narasi’, dalam pranata kata per kata, dan kalimat yang lebih menarik, yaitu: 1) sensus, 2) kelahiran dan 3) pengunguman akan kelahiran Kristus kepada kaum gembala. 

Dalam hal ini, Lukas tidak begitu saja menyampaikan fakta sejarah, tetapi lebih dalam lagi membawa faktual penalarannya ke dalam wilayah penafsiran—menafsir. Disitu kelahiran Yesus lebih ditekankan pada masa kekaisaran Agustus, sebagai maksud untuk menunjukkan secara ‘mutlak’ bahwa Yesus adalah “Raja damai sejati”. 

Dan dalam hal lainnya, kitab Lukas juga lebih mengkritisi ideologi hukum imperialis yang sejalan pula dengan kritiknya terhadap teologi Zelot yang pada saat itu menentang sensus. Dimana hal ini menggambarkan tentang keadaan yang tidak berubah dengan kekerasan dan kekuatan dari luar, tetapi justru datangnya dari dalam. Kedamaian pun di gambarkan muncul dalam sejarah bersamaan dengan figur Yesus yang selalu memiliki efek historis—politis (Grun Anselm, 2004:23).

Dalam konteks peristiwa “sensus” yang dimunculkan oleh penulis Injil Lukas, yaitu sebagai latar belakang kelahiran Yesus di Betlehem, lebih merupakan sebuah peristiwa yang menentukan arah peradaban manusia setelah itu. 

Kelahiran Kristus sang pembebas dapat dikatakan sebagai sebuah peristiwa yang dasyat dan sungguh spektakuler, sebab tata tertib warga, sistem regulasi, dasar ilmu politik, kependudukan, dan kewarganegaraan tidak dapat dipahami secara utuh tanpa peristiwa kelahiran Kristus dan sensus yang terjadi pada masa itu.

Dalam Lukas 2:2, jelas tercatat dengan pasti, bahwa peristiwa sensuslah yang kemudian membawa Yusuf dan Maria menuju ke Betlehem, ketika Kirenius menjadi wali negeri di Siria dalam pemerintahan Herodes Agung. Sebagaimana hal ini telah menimbulkan debat yang berkepanjangan di kalangan para teolog, sebab Herodes meninggal tahun 4 SM, dan Kirenius mulai memerintah tahun 6 M. 

Kebekuan perdebatan di kalangan teolog kemudian menjadi cair ketika Jerry Vardaman menemukan sebuah koin dengan nama Kirenius di atasnya. Bukti ini menunjuk pada Kirenius sebagai prokonsul Siria dan Kilikia yang memerintah dari tahun 11 SM sampai dengan setelah kematian Herodes. 

Dengan demikian, maka ada dua nama Kirenius pada saat itu. Kirenius yang pertama memerintah hingga 4 SM, dan yang satu lagi memerintah setelah 6 M. Kesamaan nama ini merupakan suatu hal yang biasa dan lumrah dalam zaman Romawi pada waktu itu. Bukti ini menunjukkan bahwa peristiwa “sensus” benar-benar terjadi dan menjadi alasan kuat untuk kembali mengukuhkan fakta kebenaran tentang kelahiran Yesus sang pembebas sejati di Betlehem.

Lebih lanjut lagi, dalam konteks ‘sebelum’ kedatangan-Nya, penulis kitab Yesaya juga tidak tanggung-tanggung untuk lebih dulu mengukir “nubuatan indah” tentang hari kedatangan Sang pembebas (Mesias) melalui rangkaian kalimat yang indah dan penuh makna. Ibarat bahasa dalam dua majas sekaligus, yaitu Metafora dan Metonimia, seperti yang tertulis ..“Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya” (Yesaya 11:6). 

Demikianlah di sini ‘pembebas’ manusia telah datang membawa damai di bumi, serta mengubah orang percaya dan alamnya sebagai hasil akhir dari penebusan yang dilakukan Kristus. Sebab Kristus datang membawa keadaan dalam kerajaan-Nya yang penuh dengan “keharmonisan” dan damai. Karena didasarkan pada ajaran yang benar. Gambaran tentang binatang-binatang perusak dan ganas yang hidup berdampingan secara damai dengan binatang-binatang kecil dan lemah melambangkan telah berlalunya semua permusuhan dan ketakutan yang lazim terjadi di antara manusia dalam sifat dan tipe yang berbeda-beda.

Sungguh hal ini menegaskan sebuah fakta ‘pembebasan’ dengan fenomena yang begitu mulia, dalam menghadirkan visi dan misi pembebasan melalui kelahiran Kristus Yesus di kota Daud. Bahkan berita kedatangan-Nya di beritakan melalui para gembala yang merupakan sekumpulan orang-orang yang terisisih, tertindas dan terlupakan pada masa itu, justru semakin memperkokoh derajad ‘Kemuliaan’ yang semakin bersinar dalam diri-Nya. Seperti tertulis..“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Lukas 2:14).

Kemuliaan Kristus dalam Bayang-Bayang Kesengsaraan
Kisah kedatangan Kristus juga semakin bernilai dan sangat istimewa, ketika kelahiran-Nya juga di bayang-bayangi oleh kekuasaan sang agresor ambisius, Kaisar Agustus, yang sangat terkenal dengan kebijakan politik ’Pax Romana’ pada saat itu (Lukas 2:1). Dimana kebijakan Pax Romana ini dibangun dengan sangat kokoh di atas pondasi binal sebuah ambisi dan kejahatan politik, serta oligarki untuk kepentingan sendiri dan kelompok tertentu.

Seperti diketahui lebih lanjut, bahwa saat itu Kaisar Agustus adalah satu-satunya pemimpin yang amat teramat di takuti bahkan di hormati oleh semua kalangan, karena pernah melakukan ekspansi maha dasyat yang di dukung oleh agresi militernya ke timur, bahkan juga ke bagian barat, sehingga membuat wilayah kekuasaannya lebih luas dari daerah Amerika Serikat, yakni seluas 3.340.000 mil persegi. 

Dan karena penaklukan yang dilakukannya itu, maka sejarah mencatat dengan pasti, bahwa selama 200 tahun lamanya tidak pernah terjadi apa yang disebut peperangan. Sehingga akhirnya, sejarah pun tidak segan-segan untuk mencetuskan suatu rekor secara pasti dan meyakinkan, bahwa melalui kekuasaan Kaisar Agustus ini pernah terjadi fakta nyata, tentang suatu kemakmuran, ketertiban dan kestabilan nasional yang begitu lama dan belum ada tandingannya hingga sampai sekarang ini. (Will Durant, The Story Of Civilization, 1.232 “the longest period of prosperity ever known to mankind … the supreme achievement in the history of statesmanship”); (dalam Karman Yonky, 2011:44).

Tidak sampai di situ saja, Alkitab juga mencatat, bahwa damai dalam kedatangan Kristus itu, untuk pertama kalinya di ‘rusak’ oleh politik teror yang terbungkus rapi didalam sebuah ‘titah’ pembunuhan berencana, yaitu perintah untuk melakukan pembunuhan sadis tanpa memperhitungkan nilai-nilai kemanusian. Perintah pembunuhan berencana ini dikeluarkan oleh seorang Herodes Agung yang dengan lantangnya berkumandang bahwa ‘semua anak laki-laki dibawah usia dua tahun, yang berada di daerah Bethlehem, haruslah di bunuh!’.

Herodes memang sang diktator ulung pada masanya. Sosok ini selalu siap melakukan apa saja demi untuk mempertahankan status quo. Bahwa apapun alasannya, kekuasaan sang Herodes harus di pertahankan hingga ke titik darah penghabisan. Hal ini terbukti, ketika di dengar oleh Herodes, tentang bayi Yesus sang pembebas yang lahir itu, maka Herodes dengan kemaksiatannya yang sangat menggebu—dan sudah tidak lagi memperdulikan batas-batas kemanusiaan—hanya demi untuk meraih ambisi politiknya yang kotor, maka Ia pun mengeluarkan titah, dengan memerintahkan agar semua anak laki-laki di bawah usia dua tahun yang tidak berdosa, harus segera dimusnahkan saat itu juga dari muka bumi.

Lebih jauh lagi diketahui, bahwa kehadiran Yesus juga diawali dengan sebuah ‘penderitaan’, bahkan ‘kesengsaraan’ di bawah pemerintahan seorang Pontius Pilatus, sebagaimana yang tercantum dalam credo umat Kristiani. Dimana pada sekitar tahun 26-36 masehi, Pontius Pilatus yang adalah juga seorang pragmatis dan plin-plan, menjabat sebagai Gubernur Yudea, Samaria dan Idumea yang masih merupakan bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Roma. Kemudian sejarah mencatat dengan pasti, bahwa penguasa Pilatus inilah yang akhirnya ‘melegalisir’ eksekusi penyaliban terhadap Kristus.


Oleh: Abdy Busthan

Post a comment

nabire.NEWS

{picture#https://1.bp.blogspot.com/-6pUnA5nMAJU/XtxVsT3qMfI/AAAAAAAAAdk/Or_LzfmtqdocFEJ_4BplnES8prVGr5j0gCLcBGAsYHQ/s1600/ghh.jpg} Nabire.NEWS adalah harian berita online berbasis Sains dan Humaniora. Ada empat hal yang menjadi fokus pemberitaan Nabire.NEWS, yaitu: (1) Kejadian menarik yang terjadi dalam kehidupan; (2) Artikel berupa Kajian Teori dan Gagasan Konseptual; (3) Fakta Peradaban Ilmu Pengetahuan; (4) Untuk menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, maka disajikan informasi dari wilayah Timur Nusantara, khususnya Kabupaten Nabire {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.