Damai tidak datang dengan sendirinya dari langit. Damai juga tidak dengan serta-mertanya hadir ketika seseorang membutuhkannya. Damai pun tak akan terbayarkan dengan jumlah mata uang apapun.

Damai sejatinya sesuatu yang sangat sederhana. Namun ia tak sesederhana apa yang disederhanakan. Damai itu indah, tapi ia tak seindah apa yang diindahkan. Damai juga sebuah realitas, namun ia sulit direalisasikan. Bahkan damai itu suatu harmoni, namun ia tak mudah diharmonisasikan.

Itu sebabnya damai mudah diucapkan, namun sulit didapatkan. Dari menit ke menit, waktu ke waktu, dan dari masa ke masa, damai selalu diteriakkan. Bahkan slogan tentang ”damai itu indah” sering di usung dimana-mana, hingga terdengar begitu menyentuh hati nurani yang terdalam. Namun yang terjadi, tetap saja damai itu sulit untuk diwujudnyatakan.

Sejak dulu, banyak orang mencari damai, sekaligus membutuhkan kedamaian. Bahkan perjuangan untuk mencapai kedamaian itu pun sudah berlangsung sejak awal manusia pertama dilemparkan ke planet bumi ini. 


Kisah Kain dan Habel (Kejadian 4:1-16) merefleksikan pembunuhan yang merobek esensi kedamaian, sebagaimana kisah kekejian manusia-manusia raksasa pada zaman sang pembuat bahterah Nuh (Kejadian 6-7), serta kisah penghancuran kota Sodom dan Gomora (Kejadian 18), yang kesemuanya itu adalah cermin bahwa manusia adalah makhluk pencari kedamaian, sekaligus juga makhluk penghancur kedamaian yang paling terdasyat di muka bumi ini.

Perang, pengrusakan, bahkan segala bentuk pertikaian antarpribadi ataupun kelompok suku, agama dan ras, serta perang antar bangsa, juga negara, yang terjadi dimana-mana dari tahun ke tahun, adalah percikan-percikan ancaman bagi umat manusia untuk bisa hidup dalam kedamaian.

Pada masa kekaisaran Romawi, pernah muncul slogan yang mentakan Si vis pacem, para bellum (Bila Anda ingin damai, siapkanlah perang). Akhirnya, dimana-mana, damai pun dimengerti sebagai situasi tak adanya perang. Jika semua musuh bisa ditaklukkan, itulah damai. Maka berlomba-lombalah negara menyiapkan tentara dan senjata yang kuat. Akibatnya, usaha damai justru memunculkan ketegangan dan pertumpahan darah di mana-mana, sebagai akibat dari perlombaan angkat senjata.

Kedatangan Yesus Kristus akhirnya membawa paradigma baru. Damai ditempatkan pada “hati yang mengasihi”. Damai harus didasarkan hukum kasih. Siapapun dia, harus disayangi dan dikasihi sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri! Konsep damai yang berwawasan perang diganti tindakan kasih. Si vis pacem, para caritatem kemudian berwujud: "bila Anda menghendaki damai, siapkanlah cinta kasih".

Itulah misi utama kedatangan Kristus, suatu warta Natal yang bergaung dari kelahiran bayi yang lemah dan terbaring di kandang hewan tempat Dia dilahirkan, yang kedatangan-Nya ini ingin menyingkirkan sifat-sifat hewani yang berakar dan melekat dalam diri manusia.

Dengan kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, serta tanpa paksaan dan kesombongan, berita tentang damai disebarluaskan.

Untuk menciptakan kedamaian, tak boleh ada pemaksaan kehendak, apalagi tindak kekerasan. Sebaliknya, dengan kasih dan pengorbanan sampai mati, diciptakanlah suasana persahabatan di antara manusia. ”Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.... Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” (Yohanes 15:13,17).

Ya, kelahiran Yesus sebenarnya ingin memberikan suatu penegasan bahwa Allah memilih untuk mengasihi mereka yang hina. Dengan cara-Nya sendiri, inkarnasi Allah dalam diri Yesus menunjukkan belarasa dan solidaritas-Nya atas penderitaan umat manusia. Bahkan Bunda Maria yang mendapat tugas melahirkan Yesus menyampaikan kidung pujiannya: ”Allah melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar...” (Lukas 1:53).

Itulah ungkapan solidaritas Allah bagi mereka yang lapar. Bahkan, solidaritas Allah itu tak terbatas pada suatu golongan tertentu saja. Yesus membuka akses karya keselamatan sepenuhnya untuk semua orang. Hal itu sudah dinubuatkan jauh sebelum peristiwa Natal terjadi.

Melalui Nabi Yesaya disampaikan rencana karya keselamatan-Nya. ”Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa agar keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (Yesaya 49:6).

Solidaritas Allah yang tanpa batas ini pada gilirannya menjadi inspirasi kekuatan moral dan pendorong manusia beriman untuk rela berbagi kepada sesama, kepada siapa saja yang membutuhkan.

Jika setiap orang mengamalkan prinsip solidaritas dan rela berbagi kepada sesama yang menderita, niscaya hidup damai setidaknya tidak menjadi isapan jempol belaka, ia pun bisa menjadi kenyataan yang hidup diantara kita dan kita.

Damai dalam solidaritas sosial dan hidup harmoni seakan menjadi dua sisi dari satu keping mata uang kehidupan. Dengan perbuatan nyata, solidaritas sosial menjadi awal signifikansi untuk mewujudkan harmoni dalam damai yang sejahtera.

Ketika damai Natal itu hilang, hidup tetap tergambar sebagai rutinitas, namun ia tanpa visi. Tiada terobosan rohani untuk memperbaiki kerusakan moral. Tiada pula kekuatan dalam kebersamaan yang saling menghidupkan dan menghargai perbedaan dan kemajemukan.

Akhirnya, rasa tanggung jawab atas sesama manusia mulai tergerus konsumerisme. Jikapun perspektif sesama hadir dalam dunia yang kompetitif, niscaya orang akan selalu mau menang sendiri, yang akhirnya memunculkan sebuah figur yang kuat dan perkasa.

Seharusnya pesan Natal yang pernah menggema melalui ucapan manis dan indah oleh Malaikat kepada gembala, bisa menjadi tumpuan acuan hidup bersama dalam membangun harmonisasi yang indah, seindah damai Natal itu sendiri.

Sebagaimana dikatakan Malaikat,...”Jangan takut, sebab sebenarnya aku memberitakan kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:10.14).

Demikian ayat di atas menyiratkan suatu ungkapan damai dalam wujud solidaritas sosial bagi seluruh bangsa. Dan hal ini harus nyata dalam tindakan konkret dan dalam perbuatan yang bisa dirasakan oleh mereka yang memerlukannya.

Sebagaimana Yesus berkata, ”Sebab saat Aku lapar, kamu memberi Aku makan; saat Aku haus, kamu memberi Aku minum; saat Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; saat Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; saat Aku sakit, kamu melawat Aku; saat Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku” (Matius 25:35-36).

Jelas sekali bahwa mempedulikan sesama adalah tolok ukur menghadapi The Day of Maranatha—penghakiman terakhir (Matius 25:31-46).

Orang akan diberkati ketika ia peduli dengan sesama dalam wujud memberikan makan kepada yang lapar, memberi minum pada yang haus, memberikan tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian pada yang telanjang, dan mengunjungi orang sakit dan tahanan.

Natal, adalah lambang kesederhanaan. Ia bukan sebuah pesta pora yang bergelimang kemewahan. Natal adalah Kenosis dalam arti yang sesungguhnya—dimana Anak Manusia mengosongkan diri-Nya dari Kemuliaan Sorgawi dan menjadi satu dengan kesederhanaan. Sangat sederhana!

Karena itu, Natal tidak harus dikomersialisasikan sehingga melahirkan perilaku konsumtif. Natal tidak harus diidentikkan dengan belanja, belanja dan belanja! Apalagi dengan Kemewahan! Damai Natal tidak terletak disitu!

Kelahiran Yesus memperlihatkan pemanusiaan total, yaitu suatu pengosongan diri dari segala atribut kemuliaan-Nya. Dan dalam perjalanan-Nya menurun dari kemuliaan kepada kesederhanaan itu, sangat berbeda dengan kecenderungan manusia untuk meraih kemuliaan duniawi, yang kadang dilakukan dengan cara apa saja (Karman Yonky, 2010: hlm. 57), sekalipun itu membinatangkan diri!

Agama, kekuasaan, uang, bahkan kekerasan bisa dimanipulasi. Beberapa pun bisa dibayar untuk mencapai kemualiaan duniawi, termasuk mengorbankan integritas moral.

Dimana-mana cendekiawan menjadi pelacur intelektual, wakil rakyat menjadi penghianat kepercayaan rakyatnya, bahkan para pejabat pemerintahan pun melayani rakyatnya dengan berbagai pungutan liar, yang semuanya itu dapat dilakukan dengan dasar suap menyuap uang. Namun, kesejatian manusia tidak terletak disitu.

Kesejatian dan kesahajaan insan manusia hanyalah terletak pada kemampuannya untuk melayani sesama, dan bukan dilayani sesama. Sebab Kristus datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Inilah yang terpenting dari makna kelahiran Kristus! Inilah damai Natal yang sesungguhnya itu!

Salam damai,
Oleh: Abdy Busthan

Post a comment

nabire.NEWS

{picture#https://1.bp.blogspot.com/-6pUnA5nMAJU/XtxVsT3qMfI/AAAAAAAAAdk/Or_LzfmtqdocFEJ_4BplnES8prVGr5j0gCLcBGAsYHQ/s1600/ghh.jpg} Nabire.NEWS adalah harian berita online berbasis Sains dan Humaniora. Ada empat hal yang menjadi fokus pemberitaan Nabire.NEWS, yaitu: (1) Kejadian menarik yang terjadi dalam kehidupan; (2) Artikel berupa Kajian Teori dan Gagasan Konseptual; (3) Fakta Peradaban Ilmu Pengetahuan; (4) Untuk menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, maka disajikan informasi dari wilayah Timur Nusantara, khususnya Kabupaten Nabire {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.